Senin, 27 April 2015

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu
oleh eka sutisna edogawa
Aku mencintaimu
Dalam semu dalam kediamanku
Tanpa mendekapmu
Terbuka untaian yang terpendam
Dalam sepi padam
Aura ragamu merahelok rupamu
Dalam sukma indah buncah senyummu
Aku mencintaimu
Sepenuh bara tarianmu
Rangkul jiwa diujung samudra
Sejak sepi sang senja
Hingga lonceng bergema
Sejak terbersit rasa
Tercair dalam linang kasihnya
Aku mencintaimu
Sejak janji suciku
Jadi bagianmu dekapmu dalam Satu
Akan kubawa cinta
Sampai ujung dunia
Sampai palung jiwa
Memutarnya dalam rindu nyata
Kan kubawa cinta
Hingga pusara

Dunia tak sejahat api

Dunia tak sejahat api
oleh eka sutisna edogawa
Kini kita harus pergi
Dalam alur garis sepi
Patuhi takdir ilahi
Meski menggores nadi
Dunia tak memaksa
Tapi manusia harus rela
Tinggalkan segala masa
Dan kuat songsong usia
Dan kini cinta merana
Membuat hati mengiba
Kala kasih saling menyapa
Namun takdir pisahkan kita
Dunia tak sejahat api
Memupus harap kita yang bernadi
Hanguskan cita yang suci
Hancurkan cinta yang lumatkan hati
Tapi dunia karangan ilahi
Giring manusia ke muara murni
Asal nafasmu ingin pahami
Dia kan menuntunmu ke ujung surgawi

Cinta selamanya ada

Cinta selamanya ada
oleh eka sutisna edogawa
Kasih takkan pergi
Meski ruang tak mengizini
Meski waktu tak memadai
Meski raga tak memiliki
Meski usia tak mencukupi
Meski hubungan tak direstui
Meski manusia tak menghendaki
Meski alam tak mengingini
Dai akan hidup sepanjang masa
Tumbuh bersama asa
Terbang kelilingi semesta
Terjun punahkan usia
Berjuang hadapi dunia
Abaikan ocehan manusia
Selama ada ridha Sang Kuasa
Selama kasih tetap percaya
Selama cinta tetap setia
Cinta kan selamanya ada

Desiran kalbu

Desiran kalbu
oleh eka sutisna
Setetes desir kalbu mengalun mengaduh
Izinkan kasih membisu mengguruh
Akankah kau dengar resapan relungmu
Kau abaikan kala dia merajukmu
Yah itulah busuk pongahmu
Membuang ludah tanpa pikirmu
Kau abaikan kala dia bernalar
Yah itulah lancangmu kasar
Mengerjapkan kaki penuh nanar
Kau abaikan kala ia merintih
Dia bukan takut dirinya pedih
Tapi dia ingin jiwamu bersih
Lalu…
Akankah kau dengar resapan relungmu?

Manusia

Manusia
Kitalah manusia itu
Bukan debu yang berlagu
Meski tampaknya syahdu
Tapi logika pun mengelu
Kau bersama kesumat rindu
Buka lelaki dalam beku
Mengkristal berjibaku
Mengaung mencari tuhanmu
Mengaduh kelam dalam pilu
Bukan pahlawan dungu
Yang hanya diam membisu
Memekik dalam pongahmu
Diam mengakar pada batu
Bukan mayat lebam membiru
Membusuk jadi abu
Di keranda hanya menunggu
Adzab perih menyiksamu
Kitalah manusia itu

Sajak untuk pujangga

Sajak untuk pujangga
oleh eka sutisna edogawa
Engkau goreskan pena
Tanganmu melumat bkertas jadi karya
Menikam jemnuh dengan najda
 Jemaarimu mengalu sepanjang masa
Isyarat jari yang tak terpisah
Hampiri setiap kata indah
Cipta jutaan kata sederhana
Koyak paksa nurani pembaca
Elok bergemuruh dalam tinta
Berterbangan di ujung sketsa
Songsong setiap kata
Mengais dunia dalam kepala
Lamunanmu penuh makna
Tak peduli siapa yang menyapa
Pola hidup kau sorot dalam sastra
Tekad dunia kobar membara
Meski kau terhalang dunia
Ditindas para penguasa
Kau tetap goreskan pena

Para pengukur langit

Para pengukur langit

oleh Eka sutisna edogawa

Milayaran jarak alam terbentang
Terhampar luas tiada hilang
Angkasa raya itari sisinya
Dalam hembus tenang atmosfernya
Langit adalah tepi langit
Dari langitNya yang terjulang sengit
Tak tergambar meski diujung petang
Tak terukur meski pagi pun hilang
Pengukur langit pun bersaksi
Betapa bentangnya bimasakti
Tak terngiang di tepi nadi
Pengukur langitpun bernada
Indah nian semesta raya
Tak terkira di ujung pena
Meski da vinci gores kanvasnya
Shakespears lamprkan karya
Newton pun berhipotesa
Tapi pengukur langit lebih kuasa
Gladiator penantang dunia
Penembus setiap masa
Menari di tepi berbelit
Selancari dunia dengan gesit
Indah lurus menatap sang langit…

TERTAWA BERSAMA MASA

TERTAWA BERSAMA MASA
oleh : eka sutisna edogawa




kini kau pergi
tenggelam dalam sunyi
sendiri dalam sepi
karibmu hanya mengiringi
kini kau tiada


tak ada lagi canda
guyonan khasmu pun tak bernada
punah bersama kroninya
lelucon pun tak terbaca
hilang bersama takdir pencipta
konyolmu tak bersuara
pupusoleh sang dunia

kau bisa tertawa bersama semesta
kau penyihir canda
buat negriku ceria
kau pesulap suasana
agungkan citra pesona
kau penakluk duka
dari kepiluan jagat raya

namun kau pun manusia
hilang ditelan masa
digerogoti nestapa
elemen tubuhmu rapuh seketika
bersama sukmamu ke pusara

kami hanya mengiringimu berdoa
selamat tinggal wahai legenda
semoga kau tenang di sana
tertawalah bersama masa


buku kehidupan

  BUKU KEHIDUPAN
       
         hidup adalah sebuah buku kosong yang bersih, kitalah yang akan menentukan, mau menulis apa di buku itu, setiap langkah kehidupan kita adalah tinta emas untuk mengukir perjalanan itu  di buku kehidupan.
             terkadang di buku itu, untuk memulai sesuatu yang baru , harus melangkah lebih,ibarat setiap buku, di setiap paragraf baru, harus di beri jarak lebih jauh, ini adalah isyarat kehidupan kita dalam memulai sesuatu.
           dan setiap bab bab kehidupan yang kita ukir akan menentukan alur dan plot dalam buku itu. kita akan selalu menemukan konflik hingga akhirnya menemui klimaks dan anti klimaks, setiap cara kita menyikapi setiap lembar dari buku buku kehidupan kita, itu akan menentukan bagaimana endingnya